Selasa, 17 September 2013

Kecamatan Rangsang 02


SENYUM INDAH DI DESA YANG BELUM MERDEKA
Oleh : Fasilitator Kecamatan Rangsang  (Slamet Riadi)

Pada tanggal 1 September 2012 saya resmi mendapat SPT (Surat Penetapan Tugas) yang baru, yaitu ke kecamatan Rangsang kabupaten Kepulauan Meranti. Perlu di ketahui sebelum ke Kecamatan rangsang saya bertugas di Kabupaten Siak lebih kurang 4 (empat )tahun yaitu di Kecamaan  Dayun mulai dari bulan Februari 2008 sampai dengan  bulan September 2010 selanjutnya saya di tugaskan  ke Kecamatan Kandis masih di Kabupaten Siak mulai dari bulan September 2010  sampai dengan bulan September 2011. Pada awal menginjakan kaki di Kecamatan Rangsang sangat tersa sekali nuansa khas kehidupan masyarakat pesisir pantai lengkap dengan kapal-kapal  penangkap ikan yang tertambat di dermaga-dermaga tradisionalnya. Disini saya sedikit akan menjelaskan tentang gambaran umum dari Kecamatan Rangsang, Kecamatan Rangsang merupakan salah satu Kecamatan di Kabupaten Kepulauan Meranti dengan ibu kota Tanjungsamak. Luas Kecamatan Rangsang 681.00 Km2 dengan jumlah penduduk 31.373 jiwa, yang terdiri dari  13 desa,dengan 1 desa yang di pisah oleh laut yaitu desa Topang dan 2 desa terpisah oleh sungai yaitu desa Bungur dan Beting  dengan suhu maksimal 33 derjat Celsius  dan suhu minimal 26 derjat Celsius. Dengan batas wilayah kecamatan Rangsang sebagai berikut:
·         Sebelah Utara berbatas dengan Selat malaka dan Negara Malaysia
·         Sebelah Selatan berbatas dengan Kecamatan Tebing tinggi dan  Kabupaten Pelelawan
·         Sebelah Barat berbatas dengan Kecamatan Rangsang Barat & Rangsang Pesisir
·         Sebelah Timur berbatas dengan Prov. Kepulauan Riau

Kecamatan Rangsang terletak pada jalur pelayaran laut yang sibuk, adapun hasil bumi dari kecamatan Rangsang adalah kelapa, kopi dan karet selain itu juga terdapat sumber alam seperti minyak bumi dan gas alam.Pekerjaan masyarakat tani, dagang, buruh, pengusaha, PNS, POLRI, TNI dan pegawai swasta.
Diawal saya bertugas sudah tersa begitu berat beban yang akan dipikul di karenakan dengan kondisi daerah yang kondisi geografisnya terletak di daerah terluar di republik yang tercinta ini dan di samping itu tak ada nya Fasilitator Teknik (FT) menambah berat kerja yang harus di pikul karena pada saat itu pekerjaan fisik tengah berlangsung. Namun demikian tidaklah menyurutkan langkah dan semangat untuk terus maju dan berbuat untuk masyarakat yang memang butuh sebuah bimbingan dan arahan agar menjadi masyrakat yang mandiri tentunya. Mungkin ada satu pepatah yang pernah di ucapkan oleh pelatih saya dulu yang terus terngiang di benak saya, pelatih tersebut berujar bahwa”Orang bilang sungai tersebut dalam jadi ga bisa di lewati, itu kata orang tapi kita harus turun dan membuktikan sendiri baru kita percaya bahwa kata orang tersebut benar adanya, mana tau ketika kita turun dan membuktikan nya sungai tersebut cuma dangkal dan air nya cuma semata kaki sehingga kita bisa melewatinya” jadi hikmah dari ungkapan pelatih tersebut adalah jangan pernah menyerah dan lekas percaya kepada kata kata setiap orang tanpa kita mencari tau sendiri klebenaran nya dan satu lagi jangan cepat patah semangat dan putus asa. Dan dari ungkapan tersebutlah saya terus bersemangat walau pun dari cerita yang di sampaikan oleh UPK,BKAD dan Masyarakat setempat ada beberapa desa yang medan nya sangat sulit di tempuh karena ke tiadaan akses jalan ke desa tersebut apalgi di saat musim penghujan praktis beberapa desa tersebut tidak bisa di tempuh dan dilewati dan jalan alternatifnya cuma lewat laut dan itu memakan waktu dan biaya yang lumayan besar untuk ukuran FK/FT hehe...dan itun tidak bisa balik hari dalam artian harus menginap di desa yang di datangi.
Perjalanan mengeliling kecamatan Rangsang pun di mulai pada saat melaksanakan musyawarah desa  sosialisasi (MD Sos) PNPM-MPd TA 2012 pada bulan November 2011, pada saat tersebut FK minus FT (kosong) beserta UPK dan BKAD harus mensosialisasikan program ke desa-desa yang ada di kecamatan Rangsang, ini merupakan perjalanan yang mungkin tak pernah terlupakan dan menjadi pengalaman berharga bagi saya bahwa di tengah gemerlapnya kehidupan di kota masih ada saudara-saudara kita di daerah pinggiran yang kehidupan nya sangat memprihatinkan dan pembangunan infrastruktur masih jauh tertinngal dari desa-desa yang lain
Berikut ini dalah foto dan suasana perjalanan ke desa Sei Gayung Kiri dan Desa Tanjung Kedabu dan desa-desa lain  di Kecamatan Rangsang yang sebagian besar masyarakat nya hidup dengan mengandalkan hasil dari tangkapan ikan dan udang (nelayan) serta dari hasil kebun kelapa dan karet, tapi sayang hasil tersebut tidak bisa di jual secara maksimal karena kurang di dukung dengan akses jalan yang memadai bahkan jauh dari kata sempurna sehingga hasil tangkapan nelayan tersebut tidak bisa di jual di ibu kota kecamatan dan hanya bisa di jual ke pengumpul yang bemodal besar denagan harga yang jauh dari yang seharusnya mereka terima.

 


Gambar1. Perjalanan dan kondisi jalan yang harus di tempuh untuk MD Sos ke desa Sei Gayung Kiri dari kiri FK, UPK dan BKAD dari kanan tampak foto ketua UPK
            Inilah kondisi jalan yang akan di lewati untuk mencapai desa desa Sei Gayung Kiri, panjang jalan yang harus di lewati lebih kurang 10 Km yang tidak nampak sama sekali adanya akses jalan yang memadai dan inilah kondisi jalan yang aharus di lewati oleh masyarakat dan anak sekolah yang akan ke ibu kota kecamatan,dan pada saat itu saya sempat terkejut dan bertanya ke UPK yang bernama Ajis Muslim ”Jis tak salah jalan kita ni” mereka pun menertawakan pertanyaan saya tersebut sambil menjawab ”emang inilah jalan nya pak dan ini lah jalan satu-satunya untuk ke desa Sei Gayung kiri” tapi susahnya medan dan kondisi geografis yang tidak menguntung tersebut sedikit  terobati dengan antusiasnya masyarakat mengikuti acara musywarah desa sosialisasi PNPM-MPd di desa mereka, Karena besar harapan mereka supaya jalan menuju ke ibu kota kecamatan agar bisa di bangun guna memudah kan akses bagi masyarakat dan anak sekolah yang ada di desa tersebut.

 

Gambar 2. Suasana MD Sos di desa Sei Gayung Kiri dan bentuk partisipasi dari kaum ibu di desa Sei Gayung kiri.



 

Gambar 3. Kunjungan Bapak M.Saleh dari World Bank dalam rangka audit dan supervisi ke desa Sei gayung Kiri.dalam kesempatan tersebut ada kejadian lucu dan cukup membuat kami terhibur karean para peserta perjalanan banyak yang jatuh dari sepeda motor yang di tunggangi, bahkan Faskab pak Irsyad yang memang udah berumur tapi punya semangat muda pulang dari desa tersebut demam selama 3 (tiga) hari karena parah nya medan yang di tempuh....hehehe...pada kesempatan tersebut pak saleh juga bertanya dan menginterview TPK dan masyarakat yang lewat jalan tersebut, beliau menanyakan tentang mekanisme pekerjaan dan tata cara pembangunan jalan rabat beton tersebut sekaligus kwalitas bimbingan yang di berikan oleh FK dan FT
            Perjalanan kami lanjutkan dengan menelusuri daerah pesisir utara menuju desa Tanjung Kedabu dalam perjalan ini di samping memang miris sekali kita melihat kondisi infrstrutur desa tersebut juga merasa iba kepada anak sekola yang sepanjang jalan yang kami jumpai begitu berat perjuangan mereka untuk bersekolah. Terbayang pada masa di sekolah di kota dulu udah fasilitas nya bagus jalan nya juga bagus itupun masih ngeluh..Bandingkan dengan kondisi desa ini cek-cek bagai bumi dengan langit bahkan ada beberapa masyrakat yang kami temui sepanjang jalan tersebut mengatakan bahwa ”DESA MEREKA TERMASUK PADA WILAYAH YANG BELUM MERDEKA” karena jalan dan yang menjadi urat nadi perekonomian desa tersebut sampai saat ini masih belum dibangun sebagai mana jalan yang ada di wilayah lain dan diantara masyrakat tersebut bahkan berkata ”mungkin bapak pejabat negara ini lupa kalo ada wilayah desa yang bernamaTanjung Kedabu yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia”.
                Jadi di daerah yang sulit dan serba terbatas belum tentu masyarakatnya sulit dan tak mau mengerti dengan program contohnya dari dua md sos diatas selalu di penuhi oleh warga yang memang ingin melihat wilayahnya di bantu dan di bangun, ini merupakan nilai plus tersendiri sehingga dalam memfasilitasi pun akan mendapatkan energi lebih walau harus bersusah payah ke desa tersebut. Hal tersebut terbayar oleh ke aktifan masyarakat dan keinginan masyarakat yang besar dan rasa peduli yang tinggi.
            Mungkin benar kata orang kepuasan batin itu tak bisa di nilai dengan uang...Heeeeemmmmmm...mungkin inilah buktinya apabila kita bisa berbuat untuk masyarakat kita yang katanya belum merdeka. Walau pun susah payah tapi tetap akan tersenyum apabila hasil yang di capai sesuai dengan harapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar