SENYUM
INDAH DI DESA YANG BELUM MERDEKA
Oleh : Fasilitator Kecamatan Rangsang (Slamet Riadi)
Pada
tanggal 1 September 2012 saya resmi mendapat SPT (Surat Penetapan Tugas) yang
baru, yaitu ke kecamatan Rangsang kabupaten Kepulauan Meranti. Perlu di ketahui
sebelum ke Kecamatan rangsang saya bertugas di Kabupaten Siak lebih kurang 4
(empat )tahun yaitu di Kecamaan Dayun
mulai dari bulan Februari 2008 sampai dengan
bulan September 2010 selanjutnya saya di tugaskan ke Kecamatan Kandis masih di Kabupaten Siak
mulai dari bulan September 2010 sampai
dengan bulan September 2011. Pada awal menginjakan kaki di Kecamatan Rangsang
sangat tersa sekali nuansa khas kehidupan masyarakat pesisir pantai lengkap
dengan kapal-kapal penangkap ikan yang
tertambat di dermaga-dermaga tradisionalnya. Disini saya sedikit akan
menjelaskan tentang gambaran umum dari Kecamatan Rangsang, Kecamatan Rangsang
merupakan salah satu Kecamatan di Kabupaten Kepulauan Meranti dengan ibu kota Tanjungsamak. Luas Kecamatan Rangsang
681.00 Km2 dengan jumlah penduduk 31.373 jiwa, yang terdiri dari 13 desa,dengan 1 desa yang di pisah oleh laut
yaitu desa Topang dan 2 desa terpisah oleh sungai yaitu desa Bungur dan Beting dengan suhu maksimal 33 derjat Celsius dan suhu minimal 26 derjat Celsius. Dengan
batas wilayah kecamatan Rangsang sebagai berikut:
·
Sebelah Utara berbatas dengan Selat malaka dan Negara Malaysia
·
Sebelah Selatan berbatas dengan Kecamatan Tebing
tinggi dan Kabupaten Pelelawan
·
Sebelah Barat berbatas dengan Kecamatan Rangsang Barat & Rangsang Pesisir
·
Sebelah Timur berbatas dengan Prov. Kepulauan Riau
Kecamatan Rangsang
terletak pada jalur pelayaran laut yang sibuk, adapun hasil bumi dari kecamatan Rangsang adalah kelapa, kopi dan karet selain itu juga terdapat sumber alam
seperti minyak bumi dan gas alam.Pekerjaan masyarakat tani, dagang, buruh, pengusaha, PNS, POLRI, TNI dan pegawai swasta.
Diawal saya bertugas sudah tersa begitu berat beban yang
akan dipikul di karenakan dengan kondisi daerah yang kondisi geografisnya
terletak di daerah terluar di republik yang tercinta ini dan di samping itu tak
ada nya Fasilitator Teknik (FT) menambah berat kerja yang harus di pikul karena
pada saat itu pekerjaan fisik tengah berlangsung. Namun demikian tidaklah
menyurutkan langkah dan semangat untuk terus maju dan berbuat untuk masyarakat
yang memang butuh sebuah bimbingan dan arahan agar menjadi masyrakat yang
mandiri tentunya. Mungkin ada satu pepatah yang pernah di ucapkan oleh pelatih
saya dulu yang terus terngiang di benak saya, pelatih tersebut berujar
bahwa”Orang bilang sungai tersebut dalam jadi ga bisa di lewati, itu kata orang
tapi kita harus turun dan membuktikan sendiri baru kita percaya bahwa kata
orang tersebut benar adanya, mana tau ketika kita turun dan membuktikan nya
sungai tersebut cuma dangkal dan air nya cuma semata kaki sehingga kita bisa
melewatinya” jadi hikmah dari ungkapan pelatih tersebut adalah jangan pernah
menyerah dan lekas percaya kepada kata kata setiap orang tanpa kita mencari tau
sendiri klebenaran nya dan satu lagi jangan cepat patah semangat dan putus asa.
Dan dari ungkapan tersebutlah saya terus bersemangat walau pun dari cerita yang
di sampaikan oleh UPK,BKAD dan Masyarakat setempat ada beberapa desa yang medan
nya sangat sulit di tempuh karena ke tiadaan akses jalan ke desa tersebut
apalgi di saat musim penghujan praktis beberapa desa tersebut tidak bisa di
tempuh dan dilewati dan jalan alternatifnya cuma lewat laut dan itu memakan
waktu dan biaya yang lumayan besar untuk ukuran FK/FT hehe...dan itun tidak
bisa balik hari dalam artian harus menginap di desa yang di datangi.
Perjalanan mengeliling kecamatan Rangsang pun di mulai
pada saat melaksanakan musyawarah desa
sosialisasi (MD Sos) PNPM-MPd TA 2012 pada bulan November 2011, pada
saat tersebut FK minus FT (kosong) beserta UPK dan BKAD harus mensosialisasikan
program ke desa-desa yang ada di kecamatan Rangsang, ini merupakan perjalanan
yang mungkin tak pernah terlupakan dan menjadi pengalaman berharga bagi saya
bahwa di tengah gemerlapnya kehidupan di kota masih ada saudara-saudara kita di
daerah pinggiran yang kehidupan nya sangat memprihatinkan dan pembangunan
infrastruktur masih jauh tertinngal dari desa-desa yang lain
Berikut ini dalah foto dan suasana perjalanan ke desa Sei
Gayung Kiri dan Desa Tanjung Kedabu dan desa-desa lain di Kecamatan Rangsang yang sebagian besar
masyarakat nya hidup dengan mengandalkan hasil dari tangkapan ikan dan udang (nelayan)
serta dari hasil kebun kelapa dan karet, tapi sayang hasil tersebut tidak bisa
di jual secara maksimal karena kurang di dukung dengan akses jalan yang memadai
bahkan jauh dari kata sempurna sehingga hasil tangkapan nelayan tersebut tidak
bisa di jual di ibu kota kecamatan dan hanya bisa di jual ke pengumpul yang
bemodal besar denagan harga yang jauh dari yang seharusnya mereka terima.
Gambar1. Perjalanan dan kondisi jalan yang harus di tempuh
untuk MD Sos ke desa Sei Gayung Kiri dari kiri FK, UPK dan BKAD dari kanan
tampak foto ketua UPK
Inilah
kondisi jalan yang akan di lewati untuk mencapai desa desa Sei Gayung Kiri,
panjang jalan yang harus di lewati lebih kurang 10 Km yang tidak nampak sama
sekali adanya akses jalan yang memadai dan inilah kondisi jalan yang aharus di
lewati oleh masyarakat dan anak sekolah yang akan ke ibu kota kecamatan,dan
pada saat itu saya sempat terkejut dan bertanya ke UPK yang bernama Ajis Muslim
”Jis
tak salah jalan kita ni” mereka pun menertawakan pertanyaan saya
tersebut sambil menjawab ”emang inilah jalan nya pak dan ini lah
jalan satu-satunya untuk ke desa Sei Gayung kiri” tapi susahnya medan
dan kondisi geografis yang tidak menguntung tersebut sedikit terobati dengan antusiasnya masyarakat
mengikuti acara musywarah desa sosialisasi PNPM-MPd di desa mereka, Karena
besar harapan mereka supaya jalan menuju ke ibu kota kecamatan agar bisa di
bangun guna memudah kan akses bagi masyarakat dan anak sekolah yang ada di desa
tersebut.
Gambar 2. Suasana MD Sos di desa Sei Gayung Kiri dan
bentuk partisipasi dari kaum ibu di desa Sei Gayung kiri.
Gambar 3. Kunjungan Bapak M.Saleh dari World Bank dalam
rangka audit dan supervisi ke desa Sei gayung Kiri.dalam kesempatan tersebut
ada kejadian lucu dan cukup membuat kami terhibur karean para peserta
perjalanan banyak yang jatuh dari sepeda motor yang di tunggangi, bahkan Faskab
pak Irsyad yang memang udah berumur tapi punya semangat muda pulang dari desa
tersebut demam selama 3 (tiga) hari karena parah nya medan yang di
tempuh....hehehe...pada kesempatan tersebut pak saleh juga bertanya dan
menginterview TPK dan masyarakat yang lewat jalan tersebut, beliau menanyakan
tentang mekanisme pekerjaan dan tata cara pembangunan jalan rabat beton
tersebut sekaligus kwalitas bimbingan yang di berikan oleh FK dan FT
Perjalanan
kami lanjutkan dengan menelusuri daerah pesisir utara menuju desa Tanjung
Kedabu dalam perjalan ini di samping memang miris sekali kita melihat kondisi
infrstrutur desa tersebut juga merasa iba kepada anak sekola yang sepanjang
jalan yang kami jumpai begitu berat perjuangan mereka untuk bersekolah.
Terbayang pada masa di sekolah di kota dulu udah fasilitas nya bagus jalan nya
juga bagus itupun masih ngeluh..Bandingkan dengan kondisi desa ini cek-cek
bagai bumi dengan langit bahkan ada beberapa masyrakat yang kami temui
sepanjang jalan tersebut mengatakan bahwa ”DESA MEREKA TERMASUK PADA WILAYAH YANG
BELUM MERDEKA” karena jalan
dan yang menjadi urat nadi perekonomian desa tersebut sampai saat ini masih
belum dibangun sebagai mana jalan yang ada di wilayah lain dan diantara
masyrakat tersebut bahkan berkata ”mungkin bapak pejabat negara ini lupa kalo
ada wilayah desa yang bernamaTanjung Kedabu yang berbatasan langsung dengan
negara Malaysia”.
Jadi di daerah yang sulit dan serba terbatas belum tentu
masyarakatnya sulit dan tak mau mengerti dengan program contohnya dari dua md
sos diatas selalu di penuhi oleh warga yang memang ingin melihat wilayahnya di
bantu dan di bangun, ini merupakan nilai plus tersendiri sehingga dalam
memfasilitasi pun akan mendapatkan energi lebih walau harus bersusah payah ke
desa tersebut. Hal tersebut terbayar oleh ke aktifan masyarakat dan keinginan
masyarakat yang besar dan rasa peduli yang tinggi.
Mungkin benar kata orang kepuasan batin itu tak bisa di
nilai dengan uang...Heeeeemmmmmm...mungkin inilah buktinya apabila kita bisa
berbuat untuk masyarakat kita yang katanya belum merdeka. Walau pun susah payah
tapi tetap akan tersenyum apabila hasil yang di capai sesuai dengan harapan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar